pengantar tidur
setelah cukup lama memilih di dalam album facebookmu akhirnya saya memilih foto ini, maaf sebelumnya kalau saya belum sempat izin :)
foto ini sangat menggambarkan kepribadianmu.
kamu yang cuek, yang apa adanya sangat jelas di sini.
seperti biasa sebelum hari ini berakhir saya ingin bercerita sedikit tentang kamu, walau hari ini tak ada yang menarik akan ku anggap selalu menarik karena ini tentangmu.
hhmm membayangkan kamu membaca tulisan ini, pastinya komentar pertama itu adalah lebay! tapi itu terserah kamu, terserah pendapat setiap pembaca saya hanya menulis, menulis segala yang saya ingin tulis walau berlebihan tak apalah.
apa orang secuek kamu sebelum tidur juga seperti ini? haha pertanyaan konyol yah jelas saja jawabannya tidak sebab apa kamu punya waktu untuk hal yang tidak penting seperti itu?
kalau kamu bertanya padaku tentang pertanyaan yang sama, aku akan menjawab; aku akan selalu punya waktu untuk sekedar berfikir tentangmu walaupun itu tak penting bagimu bagiku itu suatu keharusan. dari awal kita memang sudah berbeda kemauan, kita yang tolol terlalu keras kepala tetap bertahan. kita akan sama-sama tau kelak siapa yang akan menyerah terlebih dahulu saya atau kamu. entahlah.
hingga detik ini saya masih bisa bertahan sepertinya masih lama jika tanpa sikap cuekmu itu.
aku juga selalu ingin mempertanyakan tentang kepedulianmu, pedulikah kamu? atau hanya sekedar basa basi? sempatkanlah dirimu membaca sepenggal curhatan ini agar saya juga bisa menemukan jawaban :)
selamat malam kamu..
Aku melukismu di antara rintik hujan,
di antara desah lembut angin,
di antara daun-daun kemerahan,
di antara deburan ombak,
di dalam hati yang masih memberi ruang untukmu masuk dan menetap
Rabu, 24 April 2013
IMMUNOGLOBULIN
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar
Belakang
Untuk melawan benda asing, tubuh
memiliki sistem pertahanan yang saling mendukung. Epidermis yang berfungsi sebagai pertahanan fisik, dibantu
oleh air mata, sebum, ludah, dan getah
lambung yang mengandung unsur pertahanan kimiawi.
Sistem pertahanan tubuh merupakan
gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam rseistensi terhadap
bahan atau zat yang masuk kedalam tubuh. Jika bakteri pathogen berhasil
menembus garis pertahanan pertama, tubuh melawan serangan dengan reaksi
radang(inflamasi) atau reaksi imun yang spesifik. Reaksi yang dikoordinasikan
sel-sel dan molekul-molekul terhadap banda asing yang masuk kedalam tubuh
disebut respon imun. Sistem imun ini sangat diperlukan tubuh untuk
mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulakn oleh berbagai
bahan atau zat dari lingkungan hidup.
Imunologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang imunitas atau kekebalan akibat adanya rangsangan
molekul asing dari luar maupun dari dalam tubuh hewan atau manusia, baik yang
bersifat infeksius maupun non infeksius. Pernyataan ini berkembang dengan pesat
semenjak adanya pembuktian dari Edward Jenner.
Immunoglobulin adalah senyawa protein yang digunakan untuk melawan kuman
penyakit (virus, bakteri, racun bakteri dll.), ada di dalam darah, orang sering
menyebutnya antibodi. Setiap immunoglobulin (disingkat Ig) akan mengenali satu antigen (kuman penyakit) secara spesifik,
artinya satu antigen dikenali satu antibodi spesifik. Ig diproduksi oleh sel darah putih yang disebut sel B atau lebih
spesifik lagi sel plasma.
Imunitas adalah merupakan
jawaban reaksi tubuh terhadap bahan asing secara molekuler maupun seluler.
Secara histories imunitas merupakan perlindungan terhadap penyakit, yang lebih
spesifik dikenal dengan infectious
disease. Imunitas berasal dari kata latin yaitu Immunitas. Secara umum, imunitas merupakan respon molekul atau
seluler yang mekanismenya terbagi menjadi dua yaitu innate immunity dan adaptive
immunity. Sebagai bahan pemicu respon imun tersebut dikenal dengan antigen
dan sebagai jawaban reaksi imun dikenal dengan antibodi.
Antigen adalah
substansi yang dapat dikenali dan diikat dengan baik oleh sistem imun. Antigen
dapat berasal dari organisme (bakteri, virus, jamur, dan parasit) atau molekul
asing bagi tubuh. Hapten adalah molekul organik kecil yang dapat mengikat bagian
reseptor antigen. Antibodi adalah
protein imunoglobulin yang disekresi
oleh sel B yang teraktifitasi oleh
antigen. Berat molekul antibodi berkisar 150.000 Da sampai dengan 950.000 Da
yang tergantung pada kelasnya.
I.2 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah
dari latar belakang di atas yaitu :
1.
Apa saja Fungsi Sistem Imun ?
2.
Menjelaskan Macam-macam Sistem Kekebalan Tubuh ?
3.
Unsur apa saja yang Berperan dalam Reaksi Imunoglobulin ?
I.3 Tujuan
Adapun
tujuan yang akan dicapai adalah :
1.
Untuk
mengetahui
Fungsi dari Sistem Imun
2.
Untuk mengetahui Macam-macam Sistem Kekebalan Tubuh
3.
Untuk mengetahui Unsur apa saja yang Berperan dalam Reaksi Imunoglobulin.
BAB II
PEMBAHASAN
Sistem
kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ
khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar,sistem
ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dsan virus, serta
menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh jika sistem kekebalan
melemah,kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan
pathogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam
tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor,dan terhambatnya
sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis
kanker.
II.1 Fungsi Sistem Imun
Sistem Imun adalah sistem pertahanan tubuh
terhadap penyakit. Sebuah sistem dalam tubuh kita yang memiliki peran vital
bagi kelangsungan hidup kita.
Ada 3 (tiga) fungsi penting yang harus dimiliki sistem imun yang sehat :
1.
Kemampuannya
untuk mengenali benda-benda asing
seperti bakteri, virus, parasit, jamur, sel kanker, dll. Fungsi ini sangat
penting, karena harus bisa membedakan
mana kawan ( bakteri yang menguntungkan dan sel tubuh yang baik ) mana lawan ( virus, bakteri jahat,
jamur, parasit, radikal bebas dan sel-sel yang bermutasi yang bisa menjadi
tumor/kanker ) dan mana yang orang
biasa ( alergen, pemicu alergi ) yang harus dibiarkan lewat.
2.
Bisa
bertindak secara khusus untuk menghadapi serangan benda asing itu
3.
Sistem
Imun mengingat penyerang-penyerang
asing itu ( rupa & rumus kimiawi antibodi yang digunakan untuk
mengalahkan mereka yang disimpan didalam Transfer Factor tubuh ) sehingga bisa
dengan cepat menolak serangan ulang di masa depan.
Sistem
imun yang sehat adalah sistem imun yang
seimbang yang bisa meningkatkan kemampuan tubuh dalam melawan penyakit.
II.2 Macam – macam Sistem Kekebalan
Tubuh
Sistem
imun menyediakan kekebalan terhadap suatu penyakit yang disebut imunitas.
Respon imun adalah suatu cara yang dilakukan tubuh untuk memberi respon
terhadap masuknya patogen atau antigen tertentu ke dalam tubuh.
Sistem perthanan tubuh terbagi atas 2 bagian yaitu :
1.
Sistem Imun Non Spesifik (Innate Immunity System)
Innate Immunity adalah pertahanan tubuh yang mempunyai
sifat tidak spesifik dan merupakan bagian sistem imun yang berfungsi sebagai
barier terdepan pada awal terjadinya infeksi penyakit, oleh karena itu sering
disebut natural atau native immunity.
Yang termasuk innate immunity adalah : Makrofage, sel
darah merah dan sel assesories, selain itu juga bahan biokimia dan fisik barier
seperti kulit yang mensekresi lisosim dan dapat merusak bakteri seperti S.aureus. oleh karena itu sistem ini
spesifik untuk alam. Sehingga jika ada organisme melakukan penetrasi melalui
permukaan epithel akan dianulir oleh sitem Retikulum
Endothelium (RE) yang merupakan turunan dari sel sumsung tulang yang
berfungsi menangkap, internelisasi dan merusak agen infeksius. Dalam hal ini
yang bertindak memfagositosit adalah sel kuffer. Selain itu juga sel darah
merah termasuk eosinophil, PMN dan monosit dapat migrasi ke dalam jaringan yang
dapat merangsang secara invasive.
Sel lainnya
adalah natural killer, leukosit, sel
ini cocok untuk mengenali perubahan permukaan pada sel yang terinfeksi, seperti
mengikat dan membunuh sel yang dipengaruhi oleh interferon. Interferon adalah termasuk antibodi
spesifik yang diproduksi oleh sel target atau sel terinfeksi.
Faktor lain
yang termasuk innate immunity adalah
protein serum yang merupakan protein fase akut. Protein ini mempunyai efek
sebagai perlindungan melalui interaksi komplek dengan komplemen, yang
selanjutnya diikuti lisisnya agen penyakit.
Sebagai tanda
awal dari respon imun adalah inflamasi yang merupakan reaksi dari tubuh
terhadap injuri seperti invasi agen infeksius. Terjadinya proses ini dapat
ditandai dengan 3 hal yaitu pertama terjadi peningkatan daerah ke daerah infeksi,
kedua peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan reaksi sel endithel,
sehingga terjadi reaksi silang antara molekul besar dan sel endotelial dan
ketiga adalah terjadinya migrasi leukosit (PMN) dan makrofage dan kapiler ke
jaringan sekitar.
Pertahanan non
spesifik terbagi atas 3 bagian yaitu :
a.
Pertahanan Fisik : Kulit, Membran
Mukosa
b.
Pertahanan Kimiawi : Saliva, Air mata,
Lisozim (enzim penghancur)
c.
Pertahanan Biologis : Sel darah putih
yang bersifat fagosit (neutrofil, monosit, acidofil), protein antimikroba dan
respon pembengkakan (inflammatory).
2.
Sistem Imun Spesifik (Adaptive Immunity System)
Adaptive Immunity adalah merupakan sistem pertahanan tibuh lapis kedua,
jika innate immunity tidak mampu
mengeliminasi agen penyakit. Hal ini terjadi jika fagosit tidak mengenali agen
infeksius sebab hanya sedikit reseptor yang cocok untuk agen infeksius atau
agen tidak bertindak sebagai faktor antigen terlarut (solube antigen) yang aktif. Jika hal ini terus menerus, maka akan
diperlukan molekul spesifik yang akan berikatan langsung dengan antigen
infeksius yang dikenal dengan antibodi dan selanjutnya akan terjadi proses
fagotosis.
Antibodi diproduksi
oleh sel B yang merupakan molekul fleksibel dan bertindak sebagai adaptor
antara agen infeksius dan fagosit. Antibodi mempunyai 2 fungsi selain mempunyai
variabel antibodi yang berbeda dan mengikat agen infeksius juga mengikat
reseptor sel dan selanjutnya mengaktifkan komplemen yang diakhiri dengan
terjadinya lisis.
Sistem Imun ini
disebut Spesifik karena : dilakukan hanya oleh sel darah putih Limfosit,
membentuk kekebalan tubuh, dipicu oleh antigen (senyawa asing) sehingga terjadi
pembentukan antibodi dan setiap antibodi spesifik untuk antigen tertentu.
Limfosit berperan dalam imunitas yang diperantarai sel dan antibodi.
II.3 Unsur – unsur yang Berperan dalam Reaksi Imunoglobulin
Sebelumnya telah
kita sebutkan bahwa antibodi adalah sejenis protein. Protein-protein yang
berfungsi untuk melindungi tubuh lewat proses kekebalan ini dinamakan “Imuno globulin”, disingkat “Ig”.
Protein paling khas
pada sistem pertahanan, molekul imuno
globulin mengikatkan diri pada antigen untuk menginformasikan kepada
sel-sel kekebalan lainnya tentang keberadaan antigen tersebut atau untuk
memulai reaksi berantai perang penghancuran.
1)
Sel
B
Sel B
adalah limfosit
yang memainkan peran penting pada respon
imun humoral yang berbalik pada imunitas selular
yang diperintah oleh sel T. Fungsi utama sel B adalah untuk membuat antibodi
melawan antigen.
Sel B adalah komponen sistem kekebalan
tiruan.
Pencerap antigen pada sel B, biasa disebut pencerap sel B, merupakan imunoglobulin.
Pada saat sel B teraktivasi oleh antigen, sel B terdiferensiasi menjadi sel plasma
yang memproduksi molekul
antibodi
dari antigen yang terikat pada pencerapnya.
Sel B terbagi menjadi dua jenis:
·
Sel B-1 atau sel B CD5, merupakan sel B
yang ditemukan pada ruang peritoneal dan pleural dan memiliki kemampuan untuk berkembangbiak.
·
Sel B-2 atau sel B konvensional,
merupakan sel B hasil sintesis sumsum tulang yang memenuhi plasma darah dan jaringan sistem limfatik dan tidak memiliki kemampuan
untuk berkembangbiak.
2)
Sel
T
Sel T adalah
sel di dalam salah satu grup sel
darah putih yang diketahui sebagai limfosit dan
memainkan peran utama pada kekebalan
selular. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan
kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali
tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan karena sejumlah sel T teraktivasi
menjadi sel T memori dengan kemampuan untuk berkembangbiak dengan cepat untuk
melawan infeksi yang mungkin terulang kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat
infeksi tertentu dan sistematika perlawanannya, dieksploitasi sepanjang proses vaksinasi,
yang dipelajari pada sistem kekebalan tiruan.
Respon yang dilakukan oleh sel T adalah interaksi yang terjadi antara
reseptor sel T (bahasa Inggris: T cell receptor, TCR) dan peptida MHC pada permukaan sel sehingga
menimbulkan antarmuka
antara sel T dan sel target yang diikat lebih lanjut oleh molekul co-receptor
dan co-binding. Ikatan polivalen
yang terjadi memungkinkan pengiriman sinyal antar kedua sel. Sebuah fragmen peptida kecil
yang melambangkan seluruh isi selular, dikirimkan oleh sel target ke antarmuka
sebagai MHC untuk dipindai oleh TCR yang mencari sinyal asing dengan lintasan
pengenalan antigen. Aktivasi sel T memberikan respon kekebalan yang
berlainan seperti produksi antibodi, aktivasi sel fagosit atau
penghancuran sel target dalam seketika. Dengan demikian respon kekebalan tiruan terhadap berbagai macam
penyakit diterapkan.
Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang
bermigrasi dari sumsum tulang menuju kelenjar timus, tempat sel
punca tersebut mengalami rekombinasi VDJ pada rantai-beta pencerapnya, guna
membentuk protein
TCR yang disebut pre-TCR, pencerap spesial pada permukaan sel yang disebut pencerap sel T (bahasa
Inggris: T cell receptor, TCR). "T" pada kata sel T adalah
singkatan dari kata timus
yang merupakan organ
penting tempat sel T tumbuh dan menjadi matang. Beberapa jenis sel T telah
ditemukan dan diketahui mempunyai fungsi yang berbeda-beda.
Sel T terbagi menjadi tiga jenis,
masing-masing dari ketiga jenis tersebut mempunyai tugas / fungsi yang
berbeda-beda :
·
Sel T
sitotoksik (killer), berfungsi
membunuh sel-sel yang terinfekasi, sel ini dapat membunuh berbagai bibit penyakit,
dan sel kanker.
·
Sel T supressor
(penekan), mempunyai efek menstabilkan
jumlah sel killer agar sel killer tidak membunuh sel-sel tubuh yang sehat.
·
Sel T penolong
(helper), berfungsi membantu zat antibodi
dan sel B penghasil antibodi. Sel ini mengatur respons, kekebalan tubuh dengan
cara mengenali dan mengaktifkan limfosit yang lain.
3)
Imuno
globulin G (IgG)
Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini
adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang
belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik
selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia
dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya
imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.
4)
Imuno
globulin A (IgA)
Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva,
keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang
aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif.
Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang
bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk
kedalam lumen.
Fungsi dari IgA ini ialah:
-
Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa
-
Tidak efektif dlam mengikat komplemen
-
Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lysozim
yang ada dalam cairan sekretori yang mengandung IgA
-
Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif
5)
Imuno
globulin M (IgM)
Imunoglobulin M
ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5
hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya
dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru
atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi). IgM adalah merupakan aglutinin yang
efisien dan merupakan isohem- aglutinin alamiah. IgM sngat efisien dalam
mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk T-independen antigen,
dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen.
6)
Imuno
globulin D (IgD)
Imunoglobulin D
ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda permukaan pada sel B yang
matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal. Sel B membentuk IgD
dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA.
7)
Imuno
globulin E (IgE)
Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan
dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan
eosinpphil. IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya
antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang
untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga
menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat berguna untuk melawan parasit.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Fungsi sistem imun :
1.
Penangkal
benda asing yang masuk kedalam tubuh
2.
Untuk
keseimbangan fungsi tubuh terutama menjaga keseimbangan komponen tubuh yang
lebih tua.
Macam – macam sistem kekebalan tubuh :
1.
Sistem
Imun Non Spesifik (Innate Immunity System)
2.
Sistem
Imun Spesifik (Adaptive Immunity System)
Unsur – unsur yang berperan dalam
reaksi imunoglobulin :
1.
Sel
B
2.
Sel
T
3.
Imuno
globulin G (IgG)
4.
Imuno
globulin A (IgA)
5.
Imuno
globulin M (IgM)
6.
Imuno
globulin D (IgD)
7.
Imuno
globulin E (IgE)
III.2 Kritik dan Saran
Berdasarkan
pembahasan dan kesimpulan yang telah duraikan, kami selaku pemakalah
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun baik bagi pemakalah
maupun masyarakat pada umumnya demi kesempurnaan pemyusunan makalah selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
A.Rantam, Fedik. 2003. Metode Imunologi. Airlangga University
Press. Surabaya.
Langganan:
Komentar (Atom)


