Sudah
selarut ini dan mata masih terjaga hingga sampai pada detik ini. Sebenarnya
bukan karena tidak mengantuk tapi memang fikiran lagi sayup-sayup menjalar ke
masa lalu. Yaa masa dimana sayapun tak pernah sudi mengingatnya lagi hanya
untuk bagian tertentu warna kelam di masa itu adalah benar musuh dalam diri
saya sendiri.
Namun,
bagaimana mungkin saya menghilangkan itu? Sementara otak yang berisi ingatan di
waktu yang silam telah merekam jelas kejadian-kejadian pelik, semuanya. Dan
masih sangat jelas. Mungkin memang do’a saya yang berisikan pengharapan
hilangnya rekaman memory itu belum terjabah oleh sang pemberi ingatan, yaa sepertinya
begitu.
Dan
efek dari mengingat yang harusnya terlupakan itu masih saja tetap sama;
Penyesalan.
Masa
lalu itu, kini telah menemukan masa depannya jujur saya turut bersuka cita atas
kebahagiaan yang telah menantimu, kamu harus percaya itu sebab tak ada
kebohongan diantara pembicaraan kita beberapa waktu lalu. Tak perlu kamu merasa
menyesal dan semua rasa-rasa yang kau rasa karena saya tak pernah mau peduli
itu. Kalau saya jahat yakinlah itu bukan sebenar-benarnya sifat saya itu saya
terkhususkan untukmu.
Yang
saya herankan, kenapa kamu ragu? Padahal pilihanmu telah ditentukan begitupun
dengan saya telah memilih dia sebelumnya. Kalaupun saya diperbolehkan untuk
kembali memilih dia dan kamu, apakah kamu tahu bahwa pilihan saya tetap bersama
dia. Bukan kamu yang menjalani jadi kamu tak pernah tahu bagaimana dia lebih
baik darimu, maaf tapi faktanya seperti itu. Dan kamu tak perlu repot
mengingatkan saya untuk berfikir lagi sebab rasanya yang salah itu adalah
fikiranmu.
Ingatan
saya kembali mengingat masa lalu, dimana waktu itu kamu meminta saya untuk
kembali ke dalam kehidupanmu sedangkan jelas-jelas saya sudah bersama dia dan
kamu juga sudah bersama yang lain. Sangat lucu, kamu memang tak pernah bisa
benar-benar setia pada seorang saja. Bolehkah saya menertawakan kekasihmu itu?
Yang dengan gablangnya mempercayai semua tipuanmu. Tidak, saya tak sanggup
menertawainya karena saya pernah diposisi itu sampaikan padanya saya menaruh
kasihan untuknya, sungguh.
Oke,
saya mungkin mau mendengarkan teori perselingkuhan dengan segala macam alasan
mengapa mereka terlalu muda untuk mendua
tapi yang saya sama sekali belum mengerti bagaimana seseorang dapat
menjalani dua hubungan bersamaan sekaligus kemudian dengan entengnya berteori
mengenai sayang, diamana esikstensinya? Apakah kesetiaan mampu dibeli, terlalu
miris. Itulah kamu rasa sayangmu terlalu obral semua orang dengan gampang kamu
beri ataukah mungkin karena kebaikanmu yang terlalu berlimpah sehingga kamu
mampu menyayangi banyak wanita di waktu yang sama? Alasan konyol.
Saya,
di waktu itu mungkin memang jelas sangat bodoh, tolol, dan munafik. Begitu
sangat percaya omongan bullshitmu, dan saya yakin waktu itu kamu sangat puas
menertawakan ketololan saya. Tapi sayangnya, saya tidak mau memelihara
ketololan itu berlama-lama dan terbukti kan saya berhasil lolos dari anda yang
terhormat. Bagi saya itu sangat tidak mudah mengubah segala kepercayaan menjadi
tidak percaya melupakan perasaan dan membiarkan logika bekerja itu pekerjaan
sulit bung. Tapi saya berhasil saya dapat bebas dan yang terpenting
meninggalkanmu beserta bingkisan perasaan itu telah ku tinggalkan untukmu.
Dan
kamu dengan percaya dirinya kembali menemui saya hanya untuk membawa saya
kembali masuk dalam cerita dongengmu? Tentu saja saya TIDAK AKAN pernah mau
lagi. Sudah jelas bukan bagaimana kamu dimata saya? Lalu untuk apa lagi kamu selalu
bertanya tentang rasa saya terhadapmu?
Fokuslah
pada dia yang sekarang dan kelak akan ada pada masa depanmu, kamu dan saya
cukup dan sangat cukup punya masa lalu walau tak indah tetap saja patut
disyukuri pertemuan yang tidak sebentar namun sarak akan makna terutama makna
tentang menaruh percaya.
Selamat
malam..

